fbpx

Dunia Perkuliahan Tidak Akan Berwarna Tanpa Kehadiran Dosen-Dosen Unik Ini

Smart and clever students
Smart and clever students via themoneychat.com

Buat kamu yang sedang mengenyam bangku di dunia perkuliahan, tentunya tak jauh dan tak lain orang yang akan menjadi pengisi hari-harimu adalah seorang dosen. Bisa dibilang dosen setingkat di atas guru di sekolah. Namun ada saja beberapa hal yang kalau bisa tidak kamu rasakan dalam mengejar gelar sarjanamu ya.

Ada celotehan yang mungkin pernah kamu dengar, bahwasannya dosen akan selalu benar dan mahasiswa hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ya mungkin itu adalah anggapan yang salah kaprah. Sebagai mahasiswa tentunya kalian memang memiliki hak dan kewajiban dalam menjalankan segala macam ‘tetek bengek’ perkuliahan.

Kewajiban seorang mahasiswa yaitu mengerjakan segala tugas yang diberikan dosen dan mengikuti ujian-ujian yang diberikan sedangkan hak dari seorang mahasiswa adalah dengan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang diberikan oleh dosen. Nah, mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentunya diberikan oleh seorang dosen, di mana beliau adalah orang yang memiliki pengetahuan yang sudah mumpuni dalam bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mentransfer ilmu tersebut kepada para mahasiswa dengan baik.

Terkadang memang ada beberapa dosen yang tak arang susah dalam mentransfer ilmu yang dimiliki alias dalam mengajar kurang dapat dipahami oleh mahasiswanya. Selain kurang dalam menyampaikan ilmu, terkadang juga ada dosen yang tidak peduli dengan mahasiswanya, dan lain sebagainya.

Ini dia beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi dalam perkuliahan, apa lagi kamu sebagai mahasiswa yang memang notabene mendapatkan ilmu dan pelayanan yang baik dari kampusmu apalagi dari seorang dosen malah mendapatkan hal-hal yang sebaliknya.

 

1. Marah-marah tanpa sebab dan mencampurkan dengan masalah pribadi.

Sebagai seorang tenaga pengajar yang tentunya mempunyai tugas utama yaitu memberikan dan menyalurkan ilmu kepada mereka yang sedang menimba ilmu. Ya, apalagi mereka seorang dosen yang merupakan setingkat di atas seorang guru dan memberikan pelajaran yang lebih kompleks dibandingkan kamu dibangku sekolah.

Tapi terkadang tak jarang ada seorang dosen yang terkadang tidak dapat mengendalikan emosi dan berdampak kepada mahasiswanya. Apalagi jika dosennya tidak dapat mengontrol emosi saat mungkin dia sedang dirundung masalah dan pada saat mengajar dan meluap lah amarahnya saat mengajar.

Namanya juga dosen, sama dengan kita semua, manusia juga. Namun alasan itu sejatinya samar jika kita menilik dari segi professional. Seharusnya tidak ada mix felling atau juga moody dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta suasana belajar mengajar yang kondusif.

 

2. Mahasiswa pintar menjadi sasaran utama yang empuk.

Menjadi mangsa dan sasaran utama. Ya, kamu yang merasa pintar dan rajin kamu yang akan menjadi incaran dosen pemangsa ini. Eits, tenang kamu tidak akan dimakan dan dimutilasi dan kemudian dijadikan santapan, hehehe.

Dosen seperti ini memang tidak cuma-cuma jika memanfaatkan para mahasiswa cerdas ini, mereka akan memberi reward atau iming-iming berupa nilai yang sempurna. Semuanya tergantung dari kamu, suka atau tidak melakukan tugas itu n mendapat iming-iming berupa nilai yang bagus.

Biasanya mereka disuruh mengerjakan penelitian atau proposal dan apa pun itu yang memang sejatinya merupakan tugas dari dosen tersebut, namun dikarenakan seribu alasan untuk mempermudah pekerjaannya kemudian dilimpahkan kepada mahasiswanya.

 

3. Sibuk dengan urusan pribadinya hingga lupa kepada kewajiban utamanya.

Dosen yang seperti ini memang terkadang malah menjadi idaman mahasiswa. Ya, bagaimana tidak menjadi idola, karena seringnya kosong mata kuliah yang diampu dan ujung-ujungnya akan mendapatkan nilai yang bagus di akhir semester. Tapi tidak semuanya lho yang seperti itu.

Seharusnya seorang dosen memberikan ilmu kepada mahasiswanya dan sejatinya jika dalam satu semester itu sudah diberikan jatah untuk mengajar apalagi jika mata kuliah yang hanya dengan beban 2SKS ditambah seringnya absent dari dosen sehingga mengurangi waktu dalam belajar mengajar. Alasan yang diberikan terkadang bisa dikesampingkan dibandingkan tugas utama sebagai dosen. Bahkan ada terkadang ada mahasiswa yang complain malah mendapatkan amukan oleh sang dosen.

Seperti yang sudah diulas di atas jika nilai akan beres walau dosennya jarang hadir, lain ceritanya jika sudah jarang masuk dan di akhir kuliah para mahasiswa mendapatkan nilai ujian akhir yang kecil. Nah, dalam kasus ini yang dirugikan adalah para mahasiswa.

 

4. Bapak, Ibu yang selalu telat.

Lucu memang, seolah dosen tak pernah salah. Ya memang celoteh itu terbukti benar adanya. Jika seorang dosen saja boleh telat kenapa mahasiswa tidak diperbolehkan telat. Ya, memang peraturannya seperti itu, peraturan yang tidak tertulis dan tidak entah siapa yang membuat, namun itu berlaku dalam dunia kampus.

Mungkin banyak yang protes dan tidak setuju oleh hal yang satu ini. Pernah di antara kalian pasti complain dan langsung bilang kepada dosen tersebut, dan respon yang didapatkan malah terkadang sangat tidak masuk akal. Respon negative yang di dapatkan salah satunya ada yang mendapat nilai tak lulus yang diberikan kepada dosen yang bersangkutan, ada juga yang mendapat semprotan langsung, ironi memang.

Sebaiknya memang hal tersebut harusnya menjadi koreksi bagi sang dosen. Di mana dosen yang seharusnya memberikan contoh yang baik malah memberikan contoh yang sebaliknya. Pepatah ini memang benar dan ada “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

 

5. Hidupin komputer, sambung ke LCD proyektor, dan tampilkan slide

Banyak dosen yang mengajar ya sekedar mengajar, yang penting sang dosen telah menyampaikan materi, mau mahasiswanya paham atau tidak sang dosen tak peduli. Ya, ada tipe dosen yang seperti ini. Biasanya kalau mulai mengajar kuliah, sang dosen hanya “menerangkan” dari slide power point yang ditampilkan. Alih-alih menerangkan melainkan hanya sekedar membaca slide yang ada dan tidak peduli para mahasiswanya memperhatikan, atau paham dengan materi yang diberikan.

 

6. Pintar, namun penyampainnya kurang

Sejatinya semua dosen itu pintar dan memahami dengan jelas setiap mata kuliah yang diampunya. Yang membedakannya hanya bagaimana cara seorang dosen menyampaikan materi yang diberikan. Ada dosen yang memang paham tetapi di saat ia hendak menyampaikan materi kepada para mahasiswanya, materi yang hendak disampaikan itu tidak tersampaikan dengan maksimal.

Memang dan pasti yang mempengaruhi dalam hal ini ada beberapa faktor seperti kurang nya pemahaman mengenai metode pembelajaran dan kurang luwes dalam penyampaian serta masih banyak lagi faktor yang dapat mempengaruhinya.

Walau sang dosen sudah menyampaikan materi dengan baik versinya, namun jika dilihat dari versi mahasiswa jelas akan berbeda. Malahan terlihat membosankan, sulit dimengerti, dan terkadang ada juga yang memutuskan untuk tidak menyimak dikarenakan ujung-ujungnya juga tidak akan paham dengan penjelasan yang diberikan oleh sang dosen.

 

7. Dosen “old school” yang rumit.

Ya, ada juga pasti yang seperti ini, dosen yang sudah tergolong tua dan pemikiran serta cara mengajar ataupun lainnya masih menganut sistem zaman penjajahan dahulu kala. Masih serba manual dan tidak mengenal teknologi masa kini.

Dosen yang seperti ini memang unik, namun terkadang juga akan menyusahkan mahasiswa, seperti contoh dosen tidak mau di hubungi via telepon genggam, maunya langsung bertemu langsung, setiap tugas semuanya harus diketik manual alias ditulis tangan, lelah bukan?

Nah, itu dia beberapa tipe dosen yang memang ada dan menghuni kampus-kampus di mana pun. Namun dosen-dosen yang seperti di atas memang bukan dosen teladan yang patut untuk kamu contoh. Tapi kembali lagi kalau tidak ada dosen-dosen seperti yang di atas mungkin hari-hari di kampusmu tidak akan berwarna.

RELATED POST

Leave a Reply

about

Get Started

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081362311132

Duniadosen.com © 2020 All rights reserved

Dibuat dengan ❤ di Jogja