fbpx

Fishum UIN Suka Gelar Konferensi Internasional Usung Tema Revolusi 4.0: Religiusitas, Identitas, dan Perubahan Sosial

Dr. Phill. Ahmad Norma Permata, S.Ag., MA. (paling kiri) menjadi moderator pada plenary pertama yang diisi oleh 4 keynote speaker pada Forum Konferensi Internasional AICOSH 2019, diselenggarakan di Ballroom New Saphir Hotel Yogyakarta, (25/6/2019). (Foto: duniadosen.com/ta)

Yogyakarta – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta menggelar acara konferensi internasional (Annual International Converence on Social Science and Humanities- AICOSH) mengusung tema “4.0 Revolution: Religiousity, Identity and Social Transformation”.

Rektor UIN Suka, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi mengatakan, ada dua hal penting yang harus segera disikapi oleh Perguruan Tinggi Islam dalam rangka memajukan dunia Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara memasuki era industri 4.0. Yang pertama; bagi dunia Islam, Revolusi Industri 4.0 menuntut adaptasi yang sangat serius, berkelanjutan dan akurat, agar eksistensi Islam tidak tergilas oleh revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan pesatnya perkembangan digital sciences.

“Forum keilmuan sosial dan humaniora kali ini harus mampu melakukan langkah langkah adaptasi dari sisi religius, sosial, dan humaniora untuk mensikapi perubahan yang sangat cepat. Era industri 4.0 diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengantarkan keberhasilan dunia Islam baik pada level fakultas, universitas sampai pada tingkat kebangsaan yakni Indonesia,” paparnya saat membuka acara konferensi internasional di Ballroom, New Saphir Hotel Yogyakarta, Jl. Marsda Adisucipto, Yogyakarta, Selasa (25/6/2019).

Menurutnya, bangsa Indonesia, dan juga masyarakat Asia Tenggara merupakan bangsa yang  terlama tergilas anak-anak revolusi Industri (terutama umat Islam, yang notabene adalah mayoritas). Dimulai dari dunia Arab dan Spanyol. Hal itu karena Islam sibuk berkutat belajar AlQuran dan Hadis secara tekstual dan dogmatis, dan membuang eksperimental sciences (kimia, fisika, teknik, ilmu kedokteran dan seterusnya).

“Umat Islam pintar agama tetapi dalam bahasa ekonomi tidak memiliki keahlian cara produksi. Jadi hidupnya mengawang-awang. Sekarang kita menyadari perlunya agar sejarah menyedihkan umat Islam tidak terulang kembali. Era Industri 4.0 ini, kalau kita bisa mensikapi, kita bisa melompat ke atas, tidak harus mengulang dari bawah. Karena prinsipnya ilmu itu siapa yang mau belajar. Kalau dulu akses serba terbatas, tetapi dengan 4.0, siapapun bisa menguasai pasar kalau mau belajar.

Oleh karena itu Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara perlu mengubah mindset keberagamaan melalui revormulasi keagamaan, identitas, sosial politik kebangsaannya. Kalau itu bisa dilakukan tidak mustahil Islam di Indonesia bisa menjadi pelopor kemajuan peradaban setidaknya di Asia Tenggara, kalau bisa sampai ke tingkat Internasional. Islam yang meraih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun  tetap mempertahankan nilai-nilai agama yang rahmat. Ke depan, UIN Sunan Kalijaga akan sering menjadi tuan rumah forum forum internasional seperti ini, agar semakin di kenal dan eksis di level internasional hingga tercapai target UIN Sunan Kalijaga sebagai World Class University.

Sementara itu ketua panitia acara konferensi Fajar Iqbal M.Si., menyampaikan, Forum  AICOSH  2019 ini merupakan penyelenggarakan yang  pertama di Fakultas Isoshum, UIN Suka yang langsung mendapat tanggapan peserta yang luar biasa.  Hal itu dapat  dapat dilihat dengan ratusan  peserta dari 5 negara: India, Turki, Philipina, Singapura, dan Indonesia.

Ketua panitia acara konferensi Fajar Iqbal M.Si., yang juga dosen program magister Fishum UIN Suka saat ditemui media di sela-sela acara konferensi. (Foto: duniadosen.com/ta)

Ada 120 partisipan yang mempresentasikan hasil-hasil riset dari negara masing-masing, yang dikelompokkan dalam tiga sub tema dipayungi oleh tiga Prodi yang ada di Fakultas Isoshum (Prodi Sosiologi, Prodi Komunikasi dan Prodi Psikologi). Prodi Sosiologi mengkoordinasikan pemaparan dalam sub-sub tema: Religion and Social Transformation, Religion and Political Identity, Islamic Populism, Religion and Collective Violence, Youth and Peace Movement, Religion, Women and Juctice, Religion, Democration, and Citizenship, The Rice of Islamic Middle Class and Social Change. Prodi Ilmu Komunikasi memaparkan sub-sub tema: New Media and Identity, New Media and Participatory Culture, Mommunication and Gender, Marketing Communication and IR 4.0, Digital Literation, New Media and Politics, Challenge on Islamic Communication ind Milennials Ela, Digital Religion Practices on Muslim Youth. Sedangkan Psikologi  menjabarkan sub-sub tema: Religion and Mental Health, Religion and The Workplace, Religion and Positive Psychology for Stengthening Families and Societies, Religion in Applied Psychology. Pemaparan sub-sub tema  berlangsung di kampus fakultas Isoshum (26/6/19).

Sementara, hari pertama AICOSH menampilkan paparan sembilan narasumber; Prof. Noor Aisha  (Peneliti dan akademisi National University of Singapore), Prof. Dr. Ibnu Hamad., M.Si. (University of Indonesia), Assoc. Prof. Macrina A. Morados (University of the Philippines), Achmad Zainal Arifin M.A., Ph.D. (Islamic State University Sunan Kalijaga), Dr. Azhar Ibrahim  (National University of Singapore), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D. (Gadjah Mada University), Prof. Ronald Lukens Bull  (University of North Florida), Dr. Diah Ajeng Purwani (Islamic State University Sunan Kalijaga), M. Johan Nasrul Huda, M. Psi  (Islamic State University Sunan Kalijaga).

Prof. Noor Aisha dalam paparannya tentang implementasi hukum Islam di Asia Tenggara, menyoroti bahwa hukum Islam masih dipegang teguh oleh umat Islam di Asia Tenggara. Namun dalam perkembangan jaman, hukum umum berkembang pesat, hukum Islam cenderung stagnan dan tidak mengalami perubahan kontekstual yang signifikan. Ketimpangan itu mengakibatkan adanya gesekan dan konflik antara kelompok-kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Prof. Aisha menyimpulkan, permasalahan terbesar yang dihadapi umat Muslim, bukan terletak pada hukum Islam, tetapi cenderung pada pola pikir umat Muslim yang kaku dan tertutup pada perubahan dan itu dimonopoli oleh tokoh-tokoh agama dengan pengikut yang jumlahnya tinggi. Itulah yang mengakibatkan sebagian besar umat Islam terkungkung, tidak mampu mengikuti jaman dan tidak siap ikut serta menyelesaikan permasalahan era kekinian.

Prof. Ibnu Hammad menyoroti politik identitas yang mengatasnamakan agama, yang selalu mewarnai demokrasi di Indonesia. Yang baru saja terjadi adalah dalam konteks pilpres 2019. Kubu capres 01 menunjukkan politik identitas dari golongan NU, sementara 02 muncul politik identitas dari adanya Ijtima ulama. Dengan adanya politik identitas yang mengatasnamakan kebenaran agama itu, menuntut umat Islam berpikir mendalam dan memahami secara teliti, agar iklim, lansekap dan arah  politik  di Indonesia mengarah pada kemaslahatan bangsa Indonesia yang semakin baik.

Prof. Macrina Morados memaparkan tentang konstruk psikologis yang dipahami oleh kelompok ekstrimisme.  Dijelaskan, cara menyampaikan ilmu dan dakwah dalam Islam amatlah beragam. Kelompok ekstrimis di Philipina mengambil cara yang salah dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an yang berhubungan dengan jihad. Ironisnya, mereka memandang diri sebagai penyelamat yang dikirim Tuhan untuk memurnikan dunia dan menghilangkan praktik-praktik yang mereka nilai berdosa. Hingga memberi mereka legitimasi dan pembenaran atas tidak kekerasan mereka dengan atas nama agama.

Assoc. Prof. Macrina A. Morados (University of the Philippines) ketika mempresentasikan ide gagasannya pada forum konferensi internasional AICOSH 2019, diselenggarakan di Ballroom New Saphir Hotel Yogyakarta, (25/6/2019). (Foto: duniadosen.com/ta)

Achmad Zainal Arifin memaparkan upayanya dalam mengenalkan tarian sufi dan keajaiban dari Allah dalam Islam sampai ke kafe-kafe untuk membangun kondisi kaum muda agar mencintai cara ber-Islam sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Azhar Ibrahim memaparkan kontribusi kaum cendekiawan Muslim di Indonesia dalam mengenalkan Islam transformatif dengan mengangkat tokoh Mansoer Fakih dan Muslim Abdurrahman. Prof. Koentjoro memaparkan perihal perubahan sosial, revolusi industri dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia dan lingkungan sosial. Diah Ajeng memaparkan tentang bagaimana membangun strategi komunikasi yang tepat di era revolusi 4.0.  M. Johan Nasrul Huda memaparkan tentang bagaimana kearifan lokal Jawa turut mewarnai harmoni nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Dengan adanya forum konferensi internasional yang berlangsung selama 3 hari (25 –  27/6/19) ini berbagai pihak yang terlibat memahami berbagai peran agama, identitas, dan peran dalam transformasi sosial. Sehingga membantu komunitas akademik dan pembuat kebijakan melihat lebih kritis tentang keberagaan, tantangan, dan peluang dalam transformasi sosial,” harap Fajar Iqbal. (duniadosen.com/ta)

Share ke sosial media

RELATED POST

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

about

Get Started

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081228474322