Menanamakan Nasionalisme kepada Peneliti

peneliti berkebangsaan Indonesia

Menjadi seorang peneliti sedikit diminati. Oleh sebab itulah, Indonesia masih membutuhkan banyak peneliti. Salah satu upaya pemerintah meningkatkan jumlahnya yaitu memberikan beasiswa ke luar negeri.

Harapannya, itu akan mencetak peneliti handal untuk memajukan negeri sendiri. Sayangnya, harapan itu tidak selalu sesai rencana. Di beberapa negara berkembang, justru sebaliknya. Banyak peneliti yang dikirim ke negara maju, justru memilih berkiprah di sana.

Peneliti disebut juga dengan kaum intelektual. Di negara maju, sangat melindungi para periset dan peneliti. Peneliti adalah aset intelektual. India dan Cina menyadari keuntungan mempekerjakan kaum intelektual. Sehingga mereka bisa memajukan perekonomian. penerbit buku investasi kum

Amerika di abad ke-20 banyak ilmuwan berkaliber internasional masuk ke Amerika akibat gejolak di negara asal. Dampaknya, peneliti yang masuk di sana dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Cina pernah berjuang membawa pulang peneliti yang pindah ke negara-negara maju. Upaya Cina memanggil para akademisi dan ilmuwan yang tinggal di luar negeri ini dimulai sejak periode Deng Xiaoping, ketika masih era revolusi.

Deng Xiapoing melihat pentingnya peneliti sebagai aset strategis untuk negerinya. Selama pemerintahannya, Xiapoing mempertahankan ilmuwan agar tidak melarikan diri ke negara maju dengan menawarkan bayaran lebih tinggi daripada Amerika. Komitmen ini pun akhirnya menurun ke pemimpin penggantinya.

Lain lagi di India. Pemerintah India melakukan kebalikan yang dilakukan oleh Cina. Setelah tahun 1990-an, India berhasil mengubah brain drain menjadi reserved brain drain. Baca juga cara negara berkembang menjadikan brain drain sebagai keuntungan. Di mana ilmuwan berasal dari India pulang ke negara ketika cuti. Kepulangan mereka dimanfaatkan untuk berinteraksi secara langsung dengan peneliti di negaranya.

Berawal dari sinilah, secara permanen banyak imigran akhirnya pulang ke India. Jumlahnya ada sekitar 32.000 orang. Mereka adalah merupakan Non-Resident Indian (NRI) berasal dari Inggris.

Selain itu, India membuat jaringan diaspora. Caranya dengan membuat sebuah konsep yang menghubungkan bakat intelektual dan aset peneliti asal India yang tinggal di luar negeri. Warga India yang berada di sana masuk ke jaringan Internasional.

Dengan adanya jaringan inilah yang dimanfaatkan untuk melakukan transfer of technology and knowledge. Meskipun banyak peneliti di luar sana, India tetap bisa maju. Lewat diaspora, India mampu mengubah brain drain lebih menguntungkan.

India mampu menyulap sisi negatif menjadi brand circulation atau bisa juga disebut dengan second-generation effects of brain drain.

Kini yang terjadi sebaliknya, India mengalami ledakan perekonomian. Survei dari Inggris di tahun 2005, India menjadi tujuan kunjungan bagi negara lain. Baik itu dari Swedia, Perancis, Norwegia, Eropa, Inggris, Jerman, dan Swiss.

Menariknya, Inggris mempersiapkan untuk mengisi 16.000 orang. Mereka bersiap-siap mengikuti lowongan pekerjaan di Indian call-center di tahun 2009.

Sebenarnya tidak hanya India. Upaya yang sama pernah dilakukan oleh Indonesia. Salah satunya B.J. Habibie, salah satu tokoh intelektual yang kiprahnya hingga ke-Internasional. Dia adalah seorang ilmuwan berkebangsaan indonesia yang ironisnya diusir oleh negaranya sendiri.

Namun, ada hikmah setiap kejadian yang terjadi, begitupun dengan sosok beliau. Ketika Ia tinggal di Jerman, justru Ia mampu mengembangkan penemuannya. Maka, wajar jika Ia menjadi Menteri Riset dan Teknologi.

Jiwa nasionalisme Habibie patut diacungi jempol. Di tahun 1985, Ia mengirim 5.000 pemuda lulusan SMA berprestasi untuk belajar di universitas terbaik di dunia. Menyebarlah calon peneliti asal Indonesia ke beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Inggris, Jepang, Amerika, hingga Perancis.

Tuntutan dan beban mahasiswa yang sekolah di luar sana pun penuh tantangan. Dan, sosok Habibie menyempatkan waktunya, sekedar mengunjungi mereka. Kedatangannya memberikan motivasi dan memberikan mengingatkan, agar tidak melupakan tanah air. Setelah cukup menimba ilmu, untuk pulang ke tanah air, dan fokus memajukan tanah air lewat dunia riset.

Tujuannya sederhana agar tidak mengalami ketimpangan. Kenyataan yang terjadi dilapangan, banyak yang betah tinggal di luar negeri. Dengan alasan, karena dukungan finansial lebih mendukung, bisa total melakukan penelitian, dan lebih menjanjikan.

Banyak dari mereka yang akhirnya bimbang antara pulang ke tanah kelahiran atau menetap. Karena keterbatasan negara sendiri, untuk mengembangkan intelektual, seringkali terasa lebih sulit, dan minim apresiasi. Permasalahan-permasalahan inilah yang kini dikhawatirkan akan terjadinya brain drain di Indonesia.

Salah satu upaya meminimalisir agar peneliti muda tidak meninggalkan tanah kelahirannya dengan menanamkan rasa nasionalisme. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu khawatir akan kekurangan ilmuwan. Semakin besar tingkat kesadaran peneliti muda pulang dan total meneliti di tanah air, semakin potensial Indonesia mengejar ketertinggalan.

Semoga hal ini terwujud. Semoga peneliti yang saat ini belajar di negeri sana tidak mudah tergiur dengan kemapanan yang ditawarkan di sana. Apapun itu, berkarya menjadi harapan mengubah nasib. Selamat berkarya, semoga tulisan ini bermanfaat.

 

Referensi :

  1. http://lipi.go.id/.
  2. http://korantempo.com/korantempo.
  3. http://www.kemenperin.go.id.
  4. http://artikel.staff.uns.ac.id.

Leave your vote

-1 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 100.000000%

Written by Irukawa Elisa

Profile photo of Irukawa Elisa

Seorang jurnalis yang sibuk menulis buku dan berkebun. Punya hobi blusukan dan belajar langsung dengan alam.
FB : Irukawa Elisa
Web : snowlife-elisa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *