fbpx

Kritis dan Berprestasi Saat Mahasiswa, Mudahkan Dody Nur Andriyan Jadi Dosen

Dody Nur Andriyan, S.H., M.H., (tiga dari kanan) saat hadir di acara Bappenas dalam gelaran Call Paper Bappenas dan masuk 10 besar sebagai finalis Call Papers Bappenas. (Foto: dok. Dody)

Terkenal dengan tugasnya yang banyak dengan penghasilan pas-pasan, dosen menjadi pilihan kesekian dalam daftar pekerjaan favorit. Anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Bagi sebagian orang, dosen adalah profesi idaman. Seperti Dody Nur Andriyan, S.H., M.H., yang begitu lulus S1 mengawali karir sebagai dosen honorer, kemudian menjadi legal officer di sebuah bank, dan advokat. Meski begitu tetap pilihan terakhir karir Dody adalah jadi dosen. Dan, seperti apa kisah perjalanan karir Dody jadi dosen Hukum Tata Negara di IAIN Purwokerto dan mendulang banyak prestasi? Simak kisahnya berikut.

Sejak mengambil studi ihwal hukum tata negara, Dody, sapaan karibnya, sudah berniat menjadi dosen. Usai lulus pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (FH Unsoed) pada 2005, Dody langsung mengajar sebagai asisten dosen di almamaternya tersebut empat bulan kemudian.

Sebelum lulus, Dody memang terlibat dalam berbagai kegiatan bersama dosen di kampusnya. Ia membantu penelitian, kajian hukum, perancangan raperda, sampai lokakarya bersama dosen. Pengalaman tersebut membuatnya makin tertarik untuk menggeluti profesi dosen setelah lulus. Meski saat itu hanya digaji Rp200 ribu rupiah, Dody tak bergeming.

Sempat Disarankan Menjadi Hakim, Tapi Tetap Memilih Dosen

Baginya, jadi dosen adalah profesi yang istimewa. Merintis karir dari awal, ia tak menyerah dan ingin mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari setiap pengalaman. “Sekecil apapun peran kita, ilmu dan pengalaman dari hal tersebut pasti akan sangat berguna,” ceritanya kepada tim duniadosen.com.

Bersama dengan generasi muda dosen Hukum Tata Negara di Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke 5 di Batusangkar. (Foto: dok. Dody)

Sebelumnya, beberapa orang di sekitar, termasuk Ibunya menyarankan Dody untuk menjadi hakim atau jaksa saja. Ia bahkan sempat bertanya kepada beberapa sahabat yang berprofesi sebagai hakim seputar dunia kehakiman. Ia minta beberapa kiat dari temannya tersebut bagaimana menghadapi ujian calon hakim.

Diskusi berakhir pada keputusan Dody yang tetap ingin menjadi akademisi. Bahkan keinginan tersebut makin menjadi-jadi. Ia tak bisa menafikan jadi dosen dan berkecimpung dalam dunia pendidikan adalah passion-nya. Dosen yang mencintai bidang kepenulisan tersebut menyadari dosen adalah profesi yang istimewa.

“Menjadi dosen adalah tugas mulia, tugas suci untuk mencetak dan mendidik bibit-bibit generasi muda masa depan demi Indonesia yang lebih baik dimasa depan. Itu menjadi inspirasi yang saya dapatkan dari guru dan dosen saya yang sudah menginspirasi saya sejak kecil,” kata pria yang mengaku terinspirasi oleh Mahfud MD tersebut.

Dody Nur Andriyan, S.H., M.H., bersama sosok yang ia idolakan Mahfud MD. (Foto: dok. Dody)

Pada 2008, Dody memutuskan untuk mengambil studi master Hukum Tata Negara di FH Unsoed sembari tetap mengajar di kampus tersebut. Setelah meraih gelar master tahun 2010, Dody memutuskan untuk menikah dan memutuskan berhenti sebagai asisten dosen di FH Unsoed.

Saat itu, Dody berpikir untuk mencari tantangan dan pengalaman baru. Ia sempat bekerja kantoran sebagai legal officer di PT. Bank Mega Kantor Cabang Pembantu Purbalingga. Ia menilai perlu memiliki pengalaman praktik terkait ilmu yang telah ia pelajari. Selama bekerja tersebut, Dody sempat mengikuti Pendidikan Khusus Advokat sampai mendapat lisensi advokat profesional.

Meski sudah nyaman bekerja kantoran, Dody tak bisa memungkiri bahwa ia masih ingin terjun di dunia dosen, cita-cita awalnya. Baginya, dosen adalah cita-cita yang tak bisa ia hapuskan sampai kapanpun. Beberapa kali ia mencoba melamar jadi dosen, akhirnya kesempatan tersebut datang juga.

Menyusul PHK yang ia terima akibat pengurungan tenaga legal officer di kantor, Dody menemukan kesempatan untuk kembali ke kampus sebagai pengajar. Pada saat itu, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto sedang membuka lowongan dosen. Dody serta merta mendaftar dan diterima di kampus tersebut dan jadi dosen prodi Hukum Tata Negara sampai saat ini.

“Memang selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Justru kemudian dari situlah (setelah mendapat PHK-red.) kemudian saya menemukan jalan kembali ke kampus, ke cita-cita saya semula sebagai akademisi dan dosen,” kenang Dody.

Praktis, sejak April 2016, Dody mengabdikan dirinya di Fakultas Syariah IAIN Purwokerto sampai sekarang. Menurutnya, pengalamannya sebagai legal officer di Bank Mega membuatnya lebih mudah mengajar di kelas. Ia menyebut pengalaman praktis tersebut sangat berharga, bahkan ketika ia jadi dosen.

Bagi Dody, keteladanan konkrit melalui tindakan nyata adalah pendidikan terbaik yang harus senantiasa dilakukan kepada generasi muda penerus untuk Indonesia yang lebih baik kedepannya.

“Ilmu dan pengalaman saya di dunia praktis sebagai legal officer atau advokat dapat saya sebarkan kepada mahasiswa saya di kelas. Pengajaran dengan memadukan teori, text book, dan berbagai praktik serta pengalaman konkrit di lapangan ternyata membuat kuliah semakin hidup dan mahasiswa juga makin antusias,” lanjut laki-laki kelahiran 7 Januari 1982 tersebut.

Memilih Hukum Tata Negara

Dody adalah dosen yang mengajar bidang hukum tata negara. Bidang tersebut relevan dengan studinya selama kuliah. Dody adalah sarjana hukum lulusan 2005 dan peraih gelar master bidang hukum kenegaraan pada 2010. Keduanya ia peroleh dari FH Unsoed.

Di samping latar belakang studinya dalam bidang hukum, Dody memiliki keluarga yang berkecimpung dalam dunia hukum pula. Ibunya adalah Panitera Pengganti di Pengadilan Tinggi Cilacap. Ayahnya pun memiliki latar belakang dalam bidang pendidikan dan pemerintahan. Praktis, keduanya memberikan inspirasi kepada Dody.

Sejak kecil, Dody diajarkan untuk selalu berpikir kritis dan peka terhadap permasalahan di sekitar. Baginya, ilmu hukum bisa mengakomodasi hal tersebut. Pada saat diterima seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di FH Unsoed, nalar kritisnya makin terasah. Menurut Dody, belajar hukum sejatinya mempelajari hampir semua bidang ilmu.

Dody Nur Andriyan, S.H., M.H., sebagai narasumber dan pengajar di Pendidikan Khusus Profesi Advokat DPC Peradi Kabupaten Cilacap. (Foto: dok. Dody)

“Untuk memahami ilmu hukum dengan baik dan komprehensif, kita harus paham juga terkait ilmu politik, sosial, ekonomi, dan lainnya. Bisa saja hukum hanya dipandang sebagai hukum. Tapi, itu pandangan yang literalis textual. Harusnya, hukum dipandang melalui multiperspektif. Jadi, jika ada yang mencibir bahwa belajar hukum hanya tinggal rajin membaca undang-undang dan menghapal pasal kemudian lulus, itu tidak benar,” tegas Dody.

Dody memang tertarik dengan bidang ketatanegaraan sejak menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Cilacap. Kondisi sosial, politik, dan ketatanegaraan pada rentang 1995 sampai 2000 saat dirinya masih SMP dan SMA  juga turut mempengaruhi ketertarikannya terhadap bidang ketatanegaraan.

Dosen Harus Bisa Menghadapi Tantangan

Dalam dunia dosen, Dody ingin menjadi pengajar yang berhasil mencetak generasi penerus bangsa yang baik. Baginya, mencapai cita-cita tersebut sama artinya dengan menjadi pengajar yang paling mulia.

“Kebahagiaan terbesar seorang pendidik, termasuk guru dan dosen, adalah saat murid atau mahasiswanya berhasil melampaui atau menjadi lebih baik, lebih berprestasi, dan lebih beradab. Oleh karena itu, pendidik harus senantiasa update dan upgrade dirinya,” terang Pengurus Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara wilayah Jawa Tengah tersebut.

Dody melanjutkan, tridharma perguruan tinggi yang menjadi kewajiban dosen pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan demi tercetaknya generasi masa depan yang lebih baik.

Meski begitu, dalam mewujudkan tujuan ideal tersebut, dosen mengalami berbagai kendala dan tantangan. Menurut Dody, tantangan terbesar dosen adalah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi digital dewasa ini. Dosen perlu tetap rendah hati dan belajar dalam rangka memperbarui pengetahuannya. Dosen tak boleh menutup diri jika ingin menghadapi tantangan tersebut.

Selain itu, Dody menyebut tantangan dosen lain adalah bagaimana menjalin hubungan dengan mahasiswa. Perbedaan generasi seringkali memunculkan gap dalam komunikasi antara dosen dengan mahasiswa. Untuk menghadapi hal ini, Dody punya kiat tertentu.

“Saya menempatkan dan memposisikan mahasiswa sebagai mitra dan partner. Saya sering memanggil mahasiswa dengan sebutan ‘guys’, kok. Kita bisa tetap serius namun masih santai. Dosen dan mahasiswa zaman now harus bisa bekerjasama sebagai sebuah tim. Teamwork yang baik sangat dibutuhkan sehingga tentu kemudian hasil belajarnya akan optimal,” kata dosen penyuka ikan koi tersebut.

Dengan paradigma berpikir seperti itu, Dody yakin proses pengajaran akan berjalan dengan baik. Pun, dosen akan bisa dengan mudah memahami mahasiswa karena komunikasi dan relasi yang baik.

Di awal kuliah, biasanya Dody membuat kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. “Dalam kontrak pembelajaran, hal-hal apa saja yang bisa disepakati akan kami sepakati bersama. Kesepakatan tersebut harus disesuaikan dengan generasi milenial, misalnya tentang tugas kirim melalui email tidak perlu dicetak, dan sebagainya,” lanjut Dody.

Meski dihadapkan pada berbagai kendala dan tantangan, dosen perlu fokus pada tujuannya. Bekerja dan berkarya bukan hanya demi uang semata, itu yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh para dosen di Indonesia khususnya. Memang benar, menjadi dosen itu tidak bakalan menjadi kaya raya, tapi pasti berkecukupan. Kita, para dosen harus yakin akan hal tersebut,” ujar pria yang pernah bercita-cita menjadi pilot tersebut.

Tentang Penghargaan dan Keinginan Kembali Menulis Buku

Selama jadi dosen, Dody banyak mendapat penghargaan, diantaranya penghargaan sebagai pembimbing lomba, penghargaan sebagai pembicara, penunjukan sebagai ajudikator dalam lomba, dan sebagainya. Menurutnya, penghargaan tersebut memiliki makna penting baginya sebagai dosen.

Salah satu buku karya Dody Nur Andriyan dan berhasil diterbitkan. (Foto: dok. Dody)

Pertama, penghargaan bisa sebagai pemacu dan pemicu untuk mengabdi dan berkarya lebih baik lagi. Kedua, minimal dosen merasa di uwongke (dimanusiakan). Ada pepatah bilang ‘carilah tempat yang bukan hanya membutuhkanmu, tetapi juga menghargaimu’. Banyak orang yang datang atau memohon saat butuh, tapi lupa bagaimana kemudian memberi penghargaan,” ujarnya.

Selain penghargaan tersebut, Dody juga berhasil menulis buku, yaitu berjudul Hukum Tata Negara dan Sistem Politik; Kombinasi Presidensial Multipartai di Indonesia yang diterbitkan pada 2016 lalu.

Ke depannya, Dody ingin kembali menulis buku yang merupakan lanjutan dari karya sebelumnya. Selain itu, ia juga ingin tetap konsisten menulis dan mempublikasikan jurnal baik nasional maupun internasional. “Satu lagi, mohon doanya agar saya bisa segera studi S3,” pungkasnya. (duniadosen.com/az)

RELATED POST

One Response

  1. Sungguh kobaran hati dan semangat dari Pak Dody yg sangat indah..
    Akan tetapi, beliau harus pergi tuk selamanya 2 Januari 2021..
    Kobaran api ilmu Pak Dody takan pernah padam

Leave a Reply

about

Get Started

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081362311132

Duniadosen.com © 2020 All rights reserved

Dibuat dengan ❤ di Jogja