fbpx

Pendidikan Untuk Membangun Manusia

Pendidikan adalah aspek fundamental bagi pembangunan bangsa. Jika melihat kasus di negeri kita ini, sudah lama pendidikan menjadi sebuah perbincangan yang menarik. Penuh lika-liku di dalamnya hanya untuk mencapai satu keputusan yang sebenarnya cukup bersifat paradoks. Adalah mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang sudah terlanjur kita anggap maju, terutama dalam aspek pembangunan ekonomi dan pendidikan. Terjadilah usaha pemerintah yang begitu masif dalam rangka membentuk konsep pendidikan secara merata, tentu saja masih dengan “kiblat” negara maju dalam melaksanakan pendidikannya. Hanya dengan memperbaiki citra institusi pendidikan, pemerintah cenderung enggan memperhatikan beragamnya kultur manusia di sepanjang kepulauan nusantara. Memasuki dunia kapitalisasi pendidikan, institusi pendidikan sudah tidak lagi memfokuskan anak didik. Semua tentang citra, semua harus sama, dan jika memungkinkan, semua harus berstandar internasional. Adapun pada akhirnya pembangunan sistem pendidikan melalui perubahan kurikulum mengalami pergeseran makna dari kepentingan untuk membangun karakter manusia menjadi kepentingan industri semata.

Mari kita memberi ruang sedikit untuk introspeksi diri dengan segala sesuatu yang terjadi di pendidikan Indonesia. Sejatinya pendidikan adalah kepengasuhan untuk memberi kesempatan belajar seluas-luasnya bagi anak didik. Terlepas oleh apapun yang namanya kurikulum, pendidikan bukan menjadi suatu hal yang bersifat kaku, dikotak-kotakkan, ataupun, berdiri atas segmentasinya sendiri antara ilmu sosia budaya, agama, politk, alam maupun kesehatan. Ibarat sebuah rumah, pendidikan bukan berarti masuk ke sebuah pintu dengan bilik-bilik kamar sempit di dalamnya. Pendidikan melainkan memasuki satu pintu dengan sebuah ruangan besar yang penuh sekali pintu-pintu di dalamnya, sehingga sang anak bebas menggunakan pintu mana yang akan mereka buka selanjutnya. Sementara sang pendidik hanya mengawasi dan memberikan jawaban atas pintu-pintu tersebut tanpa menyuruh maupun melarang sang anak untuk memilih pintu. Dalam hal ini, hendaknya sang pengajar atau guru menjadi teman, mereka harus menyediakan ruang yang luas untuk bekerjasama terhadap anak didiknya. Guru hendaknya mengutamakan kasih sayang dahulu dengan memahami pilihan sang anak didik, bukannya mengajar dengan penuh otoriter hanya untuk memenuhi syarat silabus yang ditekankan kurikulum. Dengan begitu, maka terciptalah kondisi pengajaran yang harmonis untuk mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar. Ki Hajar Dewantoro sendiri sudah memahami tentang konsep pendidikan bagi negeri ini. Apabila menarik dari penjelasan di atas, maka Beliau telah mengaplikasikannya dengan menggunakan hubungan antara pendidik dan anak didik ke dalam tiga sistem. Guru menjadi teladan bagi muridnya (Ing Ngarsa Sung Tuladha), guru dan murid menjalin kerjasama (Ing Madya Mangun Karsa), guru mendorong dari belakang terhadap perilaku murid (Tut Wuri Handayani).

Apabila kita berbicara tentang sumber daya manusia, sudah lama bangsa nusantara ini dianugerahi keberagaman budaya dan alam oleh Tuhan. Hal ini membuat para manusia terdahulu belajar sekian abad lamanya untuk mengilhami dua anugerah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga telah menghasilkan formula yang sangat efektif melalui tata cara ataupun pola pikir dalam manajemen hubungan manusia dengan Tuhan, manusia, dan alam. Andaikata hal tersebut diterapkan pula di dunia pendidikan, niscaya negeri ini tidak perlu lagi kiblat dalam memajukan pendidikan, namun kita lah yang sedang membangun contoh peradaban bagi bangsa lain.

Jujur saja kita telah terlanjur menitikberatkan materi dunia pendidikan yang berasal dari dunia barat atau eropa, hampir seluruh bidang mata pelajaran yang utama meletakkan kiblat pada penemu atau penggagas dari mereka. Saya bukan menyalahkan kekayaan pengetahuan mereka, namun adakah kita tetap tidak mengesampingkan nilai-nilai kebudayaan dari para leluhur tentang pendidikan mejalani hidup yang dibagun terlebih dahulu.  Adakah konsep gotong royong, menghormati orang tua, ataupun menghargai pendapat orang lain diterapkan dalam setiap pelajaran utama di setiap institusi pendidikan?  Mungkin sangat jarang sekali kurikulum yang diterapkan pemerintah mengutamakan kearifan lokal yang sejatinya menjadi kunci kesejahteraan pendidikan, melainkan malah memilih isu pendidikan global.    Apabila di pulau Jawa, dahulu para wali sanga telah menanamkan nilai utama dalam pendidikan manusia yang sangat sederhana, lengkap dan aplikatif. Adalah Malima (main, madon, mabuk, maling, madat) sebuah konsep pendidikan untuk mencapai kehidupan yang aman, nyaman, dan sejahtera. Jika diilhami secara mendalam, pelajaran tersebut sangat berdampak terhadap ke anak-anak agar tidak berlaku melawan norma susila. Dengan kata lain, tidak hanya pencapaian kuantitatif, namun telah terbentuk pula pencapaian yang sempurna yaitu pendidikan kualitatif. Sang anak telah mengetahui parameter tertinggi bahwa jika meraih kesuksesan tidak hanya sekadar angka. Misalnya sang anak tidak hanya mendapatkan nilai sepuluh dalam UN, namun ia juga berlaku jujur tanpa mencontek. Ataupun seorang mahasiswa tidak hanya mendapatkan nilai A dalam ujian skripsinya, tetapi ia juga tidak terlibat plagiat, minum, atau bermain perempuan selama kuliah. Bahkan seorang doktor tidak hanya dilantik menjadi profesor, namun ia tidak pernah terlibat kasus korupsi di lingkungan kampus. Masih ada lagi yang bisa kita ambil dari peninggalan leluhur untuk membangun pendidikan di negeri ini, misalnya ajaran wali sanga tentang demokrasi pada lirik lagu lir ilir. Di situ terdapat lirik “Cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dhodhotira” yang berarti manusia adalah penggembala yang diharuskan mencapai kemaslahatan demokrasi yang berlambang blimbing karena bergigir lima seperti butir – butir  Pancasila. Meski begitu banyak halangan yang dilambangkan dengan licinnya sang pohon, tetap panjatlah  untuk membersihkan kain pakaian sebagai lambing martabatmu.” Adakah para pelaku pendidikan untuk memberi ruang menggali nilai filosofi dalam lirik tersebut? Atau kita memberi ruang untuk memahami lirik lagu gundhul pacul yang sarat akan nilai kepemimpinan. Di mana seorang pemimpin tidak boleh gembelengan karena dia membawa amanat rakyat yang berbentuk wakul di atas kepala. Amanat tersebut akan tumpah berceceran jika para pemimpin tak hati-hati untuk membawanya.

Contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari melimpahnya paham kearifan lokal yang sangat patut diterapkan di negeri ini. Saya teringat pada pengalaman KKN di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara pada tahun 2013. Hampir di setiap desa masih memegang teguh hukum adat yang diterapkan. Hukum tersebut bernama “Larvul Ngabal” yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, leluhur, maupun alam. Hukum tersebut juga sangat mengajarkan sopan santun, tentang menghargai manusia, terlebih pada dua hal yaitu menjunjung perempuan dan alam. Hal ini didasari pada kedua aspek tersebut yang memiliki hakikat untuk mengandung. Mereka juga telah lama menanamkan filosofi bahwa apabila terjadi sebuah peristiwa besar yang merusak, adapun dua hal sebagai penyebabnya yaitu perempuan dan tanah atau alam. Dalam pengelolaan alam sendiri, mereka memiliki sistem perputaran waktu yang tepat untuk berburu ikan dan bercocok tanam. Maka alam pun tidak pernah habis karena keyakinan yang dipegang melalui hukum “Larvul Ngabal”. Kemudian ada pula sistem gotong royong yang disebut dengan “Maren”, yaitu ketika ada satu orang yang membutuhkan petolongan maka wajib hukumnya bagi semua warga untuk bergerak membantunya. Demikian lengkapnya hukum adat yang masih dipegang sekiranya sangat perlu perhatian pemerintah untuk mengembangkannya dalam dunia pendidikan.

Tidak ada salahnya jika kita ingin memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak ada salahnya pula jika mengadopsi pengetahuan dari luar sebagai pembuka cakrawala dunia. Namun setidaknya bangsa ini memerlukan pembenahan parameter untuk membangun pendidikan. Bangsa ini harus mengakui berbagai pelajaran yang telah disampaikan para leluhur, sehingga kita tidak lagi terjebak dengan paham demokrasi sebagai produk impor dari luar. Bangsa ini tidak lagi mengejar ketertinggalan palsu yang tidak lain menggerogoti jatidiri dan membuat rakyatnya semakin minder. Adapun menjadi bangsa yang tetap terdidik, berdiri tegak, dan percaya diri dengan segala sumber daya manusia dan alam sebagai anugerah Tuhan.

 

Posting Artikel ini di tulis oleh : Imam Prakoso

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Share ke sosial media

RELATED POST

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

about

Get Started

  • Daftar Kontributor
  • S&K Kontributor
  • Menerbitkan Buku

Hubungi kami

Jl. Rajawali, Gg. Elang 6, No.2 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55581

Email : [email protected]

Telpon : 081228474322

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…