Persiapan Khusus bagi Dosen untuk Menulis Buku Ajar

buku ajar

Buku ajar dalam perkuliahan sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses belajar. Namun tanpa persiapan yang matang, sehebat apapun kemampuan menulis buku yang kita lakukan bisa saja kurang efektif dampaknya.

Buku ajar merupakan sumber belajar yang diwajibkan oleh pemerintah. Sebagaimana Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menyatakan, “Dosen secara perseorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang ditebitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan untuk pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika”. Maka dari itu, cukup disayangkan apabila Anda sebagai dosen sudah melakukan banyak penelitian tetapi tidak mengembangkannya menjadi buku ajar.

Wibowo (2016) menjelaskan bahwa materi naskah buku ajar dewasa ini dapat berisikan:

  1. Hasil penelitian laboratorium, lapangan, atau kepustakaan yang dilakukan oleh dosen bersangkutan sehubungan dengan mata kuliah yang diajarkannya.
  2. Gagasan konseptual berkaitan dengan kritik atau “perbaikan” atas suatu teori, konsep, dan paradigma ilmu yang diajarkan dosen yang bersangkutan
  3. Kajian dan aplikasi suatu teori yang bertalian dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh dosen yang bersangkutan. Dengan demikian, naskah buku tersebut memiliki kekhasannya sendiri, sehingga buku ajar berbeda dari diktat (lecture note atau review teori), modul (buku petunjuk atau manual look), monografi, dan buku referensi.

Bagi dosen, menulis naskah buku pengajaran dapat menunjukkan bagaimana kemampuan kritis dosen dalam menyampaikan ilmu dengan konteks Indonesia. Berpijak dari hal tersebut, diperlukan langkah-langkah persiapan teknik menulis buku ajar sebagai berikut:

 

1. Menyiapkan Laporan Penelitian

Apa pun bentuk laporan penelitian, pada dasarnya adalah cerminan dari proses kerja intelektual atau realisasi dari sikap kritis insan akademik terkait kehendaknya dalam mengetahui segala sesuatu. Sehingga untuk menulis buku ajar, simak dan cermatilah kembali laporan penelitian Anda. Pilihlah bagian mana saja dari laporan penelitian Anda yang hendak dijadikan bahan penulisan buku, mengingat tidak semua substansi laporan penelitian layak untuk diangkat sebagai penunjang materi buku tersebut. Dalam penegasan lain, kita tidak menjadikan laporan penelitian sebagai buku, tetapi merekonstruksi bagian-bagian tertentu yang dapat menunjang pemikiran atau penemuan dalam buku ajar.

 

2. Menyiapkan Silabus Mata Kuliah

Setelah menyiapkan laporan penelitian, siapkan pula SAP/silabus mata kuliah, karena SAP/silabus adalah pedoman dalam mengajar. Sesuaikan SAP/silabus kuliah dengan bagian-bagian tertentu laporan penelitian yang dianggap patut disampaikan kepada pembaca luas, mungkin karena kandungan informasi terbarunya yang khas Indonesia. Dengan berpegang pada SAP/silabus kuliah, akan lebih mudah untuk merancang sistematika penulisannya.

 

3. Memahami Sistematika Naskah

Terkait dengan persiapan membukukan materi ajar, kita dapat menyiangi hasil penyesuaian antara SAP/silabus dan bagian-bagian tertentu laporan penelitian, dan kemudian menyebarkannya ke dalam elemen substantif (isi) dan elemen prosedural (metode). Dari hasil penyiangan, selanjutnya dapat diselaraskan dengan sistematika umum buku Hal yang perlu diingat, sistematika laporan penelitian tidak selalu sama dengan sistematika umum. Terutama karena buku ajar lebih menuntut untuk meperbaharui informasi atau melakukan pengayaan, baik yang berkaitan dengan data, metode maupun teori. Sehingga, agar buku tersebut yang ditulis tetap up to date, janganlah segan-segan melakukan penajaman dalam analisis dan pembahasan, terutama jika laporan penelitian sudah uzur.

Secara umum, sistematika buku ajar terdiri dari tiga bagian pokoknya, bagian awal, isi, dan bagian penyudah (bdk. Achmadi, 2011; Rifai, 2011; Wibowo, 2011). Bagian pemula berisikan (a) kover depan yang berisikan judul, nama penulis, dan tahun penulisan; (b) halaman judul-dalam yang informasinya sama dengan kover depan; (c) halaman persembahan atau semboyan; (d) daftar isi; (e) halaman prakata atau pengantar yang berisikan gambaran si penulisnya tentang seluk-beluk proses penulisan, termasuk harapan-harapannya kepada pembaca; (f) daftar gambar atau tabel (jika ada); dan (g) halaman dedikasi atau halaman ucapan terima kasih.

Sementara itu, pada bagian batang tubuh berisikan bab dan sub-subbab yang menggambarkan kepakaran penulis berkaitan dengan penelitiannya. Pembagian jumlah babnya pun sangat bervariasi, tergantung tujuan, kegunaan, dan kreativitas penulisnya. Akan tetapi, bagian batang tubuh buku pada umumnya memuat latar belakang penelitian, metode, analisis, pembahasan, hasil pembahasan, dan simpulan. Sementara itu, bagian penyudah berisikan (1) daftar pustaka; (2) lampiran; (3) globalisasi atau takarir yang memuat istilah khusus yang digunakan penulisnya; dan (4) indeks.

Terlepas dari itu, bagian yang paling penting dari naskah buku ajar adalah pada bagian batang tubuh (isi) yang berisikan bab dan sub-subbab. Pada bagian ini menunjukkan tingkat kepakaran penulisnya berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan. Selamat menulis!

 

Referensi:

Wibowo, Wahyu. 2016. Penulisan Buku Ajar Perguruan Tinggi: Hakikat, Formulasi, dan Problem Etisnya. Rajawali Pers.

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 3

Upvotes percentage: 60.000000%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 40.000000%

Written by Beni Nurdiansyah

Profile photo of Beni Nurdiansyah

Sedang berlatih gaya kupu-kupu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *